Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Nibiru

In recent years, the work of Zecharia Sitchin has garnered much attention among ufologists, ancient astronaut theorists and conspiracy theorists. He claims to have uncovered, through his own retranslations of Sumerian texts, evidence that the human race was visited by a group of extraterrestrials from a distant planet in our own Solar System. Part of his theory lies in an astronomical interpretation of the Babylonian creation myth, the Enuma Elish, in which he replaces the names of gods with hypothetical planets. However, since the principal evidence for Sitchin's claims lies in his own personally derived etymologies and not on any scholarly agreed interpretations (including scholars among the Sumerians themselves), his theories remain at most pseudoscience to the vast majority, if not the totality, of academics.

[1]

Sitchin's theory proposes the planets Tiamat and Nibiru. Tiamat supposedly existed between Mars and Jupiter. He postulated that it was a thriving world in a much differently shaped solar system, with jungles and oceans, whose orbit was disrupted by the arrival of a large planet or very small star (less than twenty times the size of Jupiter) which passed through the solar system between 65 million and four billion years ago. The new orbits caused Tiamat to collide with one of the moons of this object, which is known as Nibiru. The debris from this collision are thought by the theory's proponents to have variously formed the asteroid belt, the moon, and the current incarnation of the planet Earth.

Beginning in 1995, websites such as ZetaTalk have identified Nibiru or "Planet X" as a large brown dwarf currently within our planetary system, soon to pass relatively close to Earth. Sitchin disagrees with the timing of passage.[2]

To the Babylonians, Nibiru was the celestial body or region sometimes associated with the god Marduk. The word is Akkadian and the meaning is uncertain. Because of this, the hypothetical planet Nibiru is sometimes also referred to as Marduk. Sitchin hypothesizes it as a planet in a highly elliptic orbit around the Sun, with a perihelion passage some 3,600 years ago and assumed orbital period of about 3,750 years; he also claims it was the home of a technologically advanced human-like alien race, the Anunnaki, who visited Earth in search of gold.

Taken from Wikipedia


Di Balik Minuman Isotonik

Oleh Lusiana Indriasari

Minuman isotonik semakin gencar menyerbu pasaran. Melalui iklan, produk ini dicitrakan mampu mengganti cairan tubuh yang hilang dalam waktu singkat. Di balik kesan kesegarannya, minuman isotonik dapat berbahaya apabila dikonsumsi sembarangan.


Sebuah iklan minuman isotonik di televisi mengatakan, ion di dalam isotonik mampu menjaga kelembapan kulit dan tubuh lebih baik daripada air biasa. Iklan lain menyebutkan, kehilangan dua persen cairan tubuh akan menurunkan stamina dan konsentrasi.

Dosen pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Fransiska Rungkat Zakaria, mengatakan, iklan produk isotonik sebagian menyesatkan masyarakat.

Di iklan, seolah-olah isotonik bisa diminum siapa saja dan dalam kondisi apa saja. Padahal, Fransiska mengingatkan, isotonik tidak bisa dikonsumsi sembarangan karena minuman ini mengandung garam natrium (NaCl).

”Coba perhatikan labelnya, pasti ada kandungan Na dan Cl nya,” tutur Fransiska. Ia menambahkan, minuman isotonik itu tidak lain adalah larutan garam. Oleh produsennya, larutan itu kemudian diberi tambahan zat lain, seperti vitamin.

Ion yang disebut-sebut sangat bermanfaat bagi tubuh sebenarnya juga tidak hanya terkandung pada isotonik. Setiap garam yang dilarutkan dalam air, kata Fransiska, pasti akan berubah menjadi ion Na dan ion Cl. ”Jadi, ion yang terkandung dalam sayur lodeh dengan ion dalam isotonik itu sama saja,” tutur Fransiska.

Karena berisi garam, isotonik tidak boleh diminum sembarangan. Apabila berlebihan, kadar garam dalam tubuh akan menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. ”Bila sudah kena hipertensi, tinggal menunggu saja bagian tubuh mana yang jebol duluan,” kata Fransiska.

Dari makanan

Apabila tubuh kita berkeringat, natrium dan klorida yang terkandung dalam cairan tubuh ikut keluar melalui pori-pori kulit. Jika kedua zat itu tidak digantikan, sel-sel tubuh kita lama-lama akan rusak dan mati.

Persoalannya, dari manakah zat natrium dan klorida itu diperoleh? Apakah harus dari minuman isotonik? Jawabannya, tidak.

Menurut Fransiska, makanan yang kita konsumsi sehari-hari sudah cukup untuk menggantikan natrium dan klorida yang keluar bersama keringat. ”Setiap kali masak, kita selalu menggunakan garam. Itu sudah cukup untuk mengganti garam yang keluar dari tubuh. Bahkan berlebih,” papar Fransiska.

Ia mengingatkan, dalam kondisi normal, tubuh orang dewasa hanya memerlukan 2,3 gram natrium per hari, sedangkan klorida hanya 50-100 mg. Pada anak-anak, kebutuhan dua zat itu lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa.

Apabila kita memasak tanpa garam, kebutuhan natrium dan klorida juga sudah bisa dipenuhi dari bahan makanan. Ia mencontohkan, 1 ons daging merah mengandung 70 mg natrium, sementara setiap 10 ons nasi mengandung 10 mg natrium.

Bahan makanan lain, seperti telur, daging ayam, kacang-kacangan, buah, dan sayur, juga mengandung natrium. ”Karena itu, pada kondisi normal, kita tidak perlu lagi mengganti cairan tubuh dengan isotonik,” kata Fransiska.

Fransiska mengingatkan, isotonik lebih cocok dikonsumsi atlet yang menggeluti olahraga berat. Pada atlet olahraga berat, kebutuhan sodium memang lebih tinggi dari orang biasa, yaitu 5-7 gram per hari.

Meski begitu, sebaiknya dihitung lebih dulu apakah natrium dan klorida yang dibutuhkan atlet bersangkutan sudah cukup didapat dari makanan yang dikonsumsi. Bila masih kurang, boleh saja ditambah dengan isotonik.

Di negara maju, kata Fransiska, ada lembaga yang meneliti dan menghitung berapa jumlah natrium pada makanan yang dikonsumsi atlet. Hasilnya, menu makanan yang dihidangkan tiga kali sehari itu sudah mengandung 6 gram natrium.

Mengecoh

Meski isotonik tidak boleh dikonsumsi sembarangan, beberapa iklan produk isotonik justru memakai model orang biasa (bukan atlet) sebagai konsumen isotonik. Minuman isotonik itu juga ditenggak pada kondisi biasa saja, seperti terjebak macet yang tidak selalu identik dengan keluarnya ion-ion tubuh secara berlebihan. Bahkan disebutkan, tanpa menyebut kondisinya, isotonik lebih baik dari air biasa.

Menurut Fransiska, iklan semacam itu sangat menyesatkan masyarakat. Produsen boleh saja menarik pembeli dengan iklan yang kreatif, tetapi dalam iklan juga harus dicantumkan informasi yang jelas, bukan informasi menyesatkan.

Produsen seharusnya juga mencantumkan peringatan minuman itu mengandung garam. Agar konsumen bisa mengambil keputusan terbaik, harus disebutkan pula berapa jumlah garam yang dibutuhkan manusia per harinya.

”Memang produsen akan ribut. Kalau label itu diberlakukan, produk mereka tidak akan laku. Meski demikian, jangan karena kepentingan ekonomi, kesehatan masyarakat dipertaruhkan,” kata Fransiska. Jadi, meski kelihatannya menyegarkan, hati-hati bila ingin mengonsumsi isotonik.

Taken from Kompas

Kesalahan ketika Pake HP

Meskipun teknologi memudahkan aktifitas manusia, namun WHO menyimpulkan penggunaan ponsel secara terus menerus selama 5-18 tahun atau lebih, dapat menimbulkan resiko lebih tinggi terkena serangan kanker darah (leukemia) atau kanker pankreas. Seorang yang sering terkena radiasi ponsel, cepat atau lambat, dapat mengalami efek detrimental pada otak

Riset medis di Amerika Serikat menunjukan, laki - laki yang menggunakan ponsel lebih dari 4 jam sehari mengalami penurunan jumlah sel mani sebesar 40 % dibanding laku - laki yang pemakaian ponsel nya lebih rendah. Ada 6 faktor perilaku yang ternyata secara medis berpengaruh kepada si pengguna ponsel :

Mengantungkan ponsel di leher atau pinggang

Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan orang karena terasa lebih praktis. Namun fakta medis berbicara lain. Menyimpan ponsel di sekitar area leher berbahaya bagi penderita arrhythmia atau gangguan irama jantung. Fungsi jantung menjadi tidak sempurna akibat pengaruh radiasi dari ponsel yang menggantung di sekitar dada.

Solusi : Simpan ponsel di dalam tas, dompet atau sarung dengan cara di genggam, bukan diikat pada pinggang atau digantungkan di leher.

Langsung menempelkan ponsel di telinga ketika hubungan belum tersambung

Umumnya, begitu memencet nomor yang ingin dituju, pengguna langsung menempelkan ponsel di telinga untuk mendengarkan apakah ada nada sambung. Padahal percakapan belum dimulai sedetikpun.

Solusi : ketika hubungan telepon belum tersambung, radiasi akan bertambah kuat. Beri selang beberapa waktu, sekitar 5 detik untuk kemudian mendengarkan apakah sudah tersambung.

Menempelkan ponsel ditelinga ketika menelpon

Kelemahan suara yang dihasilkan sebuah ponsel bisa jadi alasan kenapa banyak orang yang tidak memberi jarak antara telinga dan ponsel yang akan digunakan.

Solusi : Memberi jarak antara telinga dan ponsel kamu, Pilih operator dan ponsel yang mampu memberikan jaringan dan sinyal yang baik.

Melakukan percakapan terlalu lama

Tarif murah yang diberikan operator seperti memberi jalan Tol bagi user untuk tak bosan bicara ber jam - jam. Padahal jika ponsel mulai terasa panas, kamu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Solusi : Gunakan handsfree untuk mengurangi radiasi. Jika harus terpaksa menelpon dalam jangka waktu lama, letakan ponsel secara bergantian di kiri dan kanan telinga setiap 1-2 menit.

Bicara sambil mojok di sudut tembok, dan berbisisk - bisik saat menerima telepon

Menelpon dengan bersembunyi disudut ruangan lebih membahayakan kesehatan. Dalam kondisi umum, penutupan sinyal sudut ruangan dapat menyebabkan daya radiasi ponsel pada sudut tertentu bertambah besar.

Solusi : Usahakan untuk mencari ruangan terbuka untuk berkomunikasi via ponsel. Jangan menggunakan ponsel untuk bergosip

Menelpon sambil mondar - mandir

Tanpa kita sadari, sejumlah orang suka berjalan - jalan ketika menelpon. Padahal menggerakan ponsel ketika menelpon menyebabkan ketidak stabilan sinyal yang diterima. Kalau sudah begitu, terjadi perubahan daya tinggi dalam waktu singkat yang tidak diperlukan.

Solusi : Cari posisi yang nyaman. Berhenti dan diam ketika menelpon, karena menelpon hanya membutuhkan suara dan ponsel sebagai perantaranya. Membuat kebiasaan baru : tidak menjadi orang yang terlalu sibuk untuk sekedar bertelepon. Tidak menerima telepon sama sekali jika anda sedang melakukan perjalanan (pergerakan)

Take from anonymous source

Should Heath Ledger Be Nominated For Best Actor? No.

It was the best performance of his career (yes I think it was better than his performance in Brokeback Moutain). It was, in my opinion the single greatest performance ever given in a comic book based movie (yes, that includes Ian McKellen as Magneto in the X-Men flix). It was also one of the best all round performances of the year, so clearly and understandably many people have been talking about a possible Oscar nomination for Heath Ledger for his role as The Joker in The Dark Knight.

The thing is, most people up to this point have been talking about that possible Oscar Nomination in he context of Best SUPPORTING Actor… you know… because he was a supporting actor in the movie. But there have been some people poking their heads up to suggest that Warner Bros. should push for Ledger to be considered in the Best Actor category. A move that I contend would be both technically incorrect and an attempt to capitalize on the tragic death of Ledger.

#1 - TECHNICALLY INCORRECT

From a technically correct perspective, this has been a real issue with me for a couple of years now. To me, when you don’t have a clear definition of a category or fail to respect the categories boundaries… then that category looses all credibility and meaning. There are two categories… Best Actor and Best Supporting Actor. Sometimes a film clearly has two leads who share essentially the same screen time and number of pages. The horrible DiNero and Pacino film “Righteous Kill” would be an example of that. But in The Dark Knight, The Joker was not the lead character. Yes he stole the movie, I completely agree with that… but that doesn’t make him the lead and as such he is a supporting character.

The Academy Award for Best Supporting Actor is NOT a consolation prize. It’s not a second rate award. It is an award of excellence for those who filled roles of supporting characters. When people try to blur the lines between them I believe it degrades and demeans the category all together.

Heath Ledger is in the opening sequence of the film, but then disappears for a good amount of time before re-emerging at the mob boss meeting. He’s also missing for most of the third act of the film. NONE OF THAT DIMINISHES HIS IMPORTANCE OR HOW WELL HE PLAYED THE ROLE. It just highlights that he was not the “lead”. There is nothing wrong with that. “Best Lead Actor” does not mean better or worse than whoever is “Best Supporting Actor”. They’re just different roles that need to be played. But they are different and there are two different categories for a reason. Heath was magnificent… but The Joker was a supporting character, not the lead.

#2 - MORALLY WRONG

There were some people who charged that Warner Bros. were capitalizing on the death of Heath Ledger because of how they were marketing The Dark Knight. I firmly disagreed with them on this charge. I actually believe that Warner showed great class in how they handled the tragic passing of Ledger and didn’t feel they, in any way, attempted to cash in on the news of his death. I was afraid we’d see commercials and billboards proclaiming “See Heath Ledgers’ final complete performance… yadda yadda yadda”, but they never came. If anything they underplayed it and I believe they deserve much credit for that.

However, should WB make a move to push Ledger into LEAD Actor consideration, I think they’d erase all of that. In my opinion it would be nothing short of a stab at pulling money out of a dead man’s wallet, trying to capitalize on the buzz and tragedy all to gain higher exposure for their film. No one understand that business is business better than I do… and I don’t fault a studio trying to discover ways to make more money… but to me this would be such an overtly slime move that I’d recoil.

It should be mentioned that WB has not said that they’d push for a best LEAD nomination for Ledger at this point. That’s just what some pundits out there are speculating… but you know they’re considering it. And considering is fine… just don’t do it. It would be both the technically and morally incorrect thing to do.

For an opposite point of view with some good thoughts, check out the article over at In Contention.

Taken from themovieblog


Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?

I

JIKA Anda rajin berselancar ke forum-forum tentang film di situs-situs macam Kaskus, Ruang Film, dan sejenisnya, Anda akan ketemu kabar seperti ini: Gundala, sang tokoh komik legendaris itu, akan segera dibuat versi filmnya. Kabar ini bermula dari kehadiran situs bernama www.gundalathemovie.com.[1] Situs ini memasang poster film dengan judul pendek: GUNDALA. Di poster itu terlihat sosok Gundala dengan latar belakang gedung-gedung Jakarta. Di bawah posternya, ada susunan kru dan pemain, serta sinopsis pendek. Film ini akan diproduksi Bumi Langit Pictures

Komentar yang bertebaran di forum-forum Internet menyambut baik kehadiran Gundala versi film. Mereka yang sudah gerah disuguhi film-film horor di bioskop mengharap betul kehadiran film ini. Tapi, apa iya film ini benar-benar ada dan akan edar Juni tahun depan seperrti disebutkan situs itu?

Nanti saja dijawabnya. Yang pasti, film superhero bukanlah hal baru buat jagad sinema kita. Ya, sineas negeri ini pernah membuat film superhero, film yang bertema pahlawan berkekuatan super macam Superman atau Spider-Man. Pada 1974, sineas kita melahirkan Rama Superman Indonesia (Frans Totok). Judulnya sudah bercerita film ini berkisah tentang apa dan siapa. Tapi tak ada salahnya dikisahkan kembali. Alkisah, Andi (Boy Shahlani) seorang penjaja koran yang mendapat jimat kupu-kupu emas. Bila jimat itu dicium, ia bisa berubah jadi superhero yang bisa terbang, berkostum bak Superman, bernama Rama (diperankan August Melasz). Rama sering membantu orang yang kesusahan hingga jadi berita di koran. Kemudian, film mengisahkan pertautan Rama dengan wanita bernama Lia (Jenny Rachman), putri Profesor Hartoyo (Djauhari Effendi). Sang profesor jadi incaran komplotan penjahat Naga Hitam lantaran formula temuannya, yang bisa membuat bahan peledak berkekuatan sangat tinggi. Usaha merebut formula itu selalu digagalkan Rama. Karena gagal, Lia diculik. Rama muncul menyelesaikan masalah.[2]

Selang tujuh tahun kemudian giliran lahir Gundala Putra Petir (1981, Lilik Sudijo) dari tangan sineas kita. Kisahnya seputar Sancoko (Teddy Purba), seorang ilmuwan bergelar insinyur, berubah jadi Gundala, sang pahlawan berkekuatan super. Awalnya, Sancoko diam-diam menyuntikkan cairan anti petir. Hasilnya luar biasa. Tubuhnya jadi tahan terhadap arus listrik dan punya kekuatan luar biasa hal ini juga berkat bimbingan gurunya, Dewa Petir (Pitrajaya Burnama). Kehebatan Sancoko sampai ke telinga Gasul (WD Mochtar), seorang gembong narkotik. Bersama beberapa kawannya Gasul menculik Sancoko, memintanya menciptakan ramuan heroin sintetis. Minarti (Anna Tarias), tunangan Sancoko, dan Prof. Saelan (Ami Prijono) ikut diculik. Sancoko tetap bungkam dan menolak permintaan kawanan penjahat itu. Belakangan diketahui, dalang kejahatan itu Ir. Agus (August Melasz) rekan Sancoko sendiri.[3]

Rama Superman Indonesia lahir empat tahun lebih dulu dari film Superman (1978) karya Richard Donner yang mempopulerkan Christopher Reeve sebagai Superman. Di Amerika sana, Superman versi layar lebar hadir menandai era kebangkitan film-film superhero. Sebelumnya, genre ini kurang dilirik sineas Amerika. Kisah superhero hanya cocok jadi tontonan televisi di rumah (serial televisi Superman dan Batman populer di tahun 1950-an dan 1960-an).

Kisah Superman layar lebar berlanjut hingga sekuel keempat di tahun 1980-an. Semakin bilangannya bertambah, kisah Superman versi layar lebar makin rendah mutunya dan o rang mulai jenuh dengan kisah manusia super dari planet Krypton ini. Meski begitu, bukan berarti genre ini ikut jenuh. Hollywood lantas menyodorkan sosok superhero baru Batman (Tim Burton) di penghujung 1980-an. Sosok Batman kemudian hadir sepanjang dekade 1990-an. Namun, lagi-lagi sekuel Batman makin buruk (rilisan 1997 [Batman & Robin] malah dianugerahi Razzie Awards, Oscar-nya film-film buruk).

Hollywood lantas berpaling pada Spider-Man (2002, Sam Raimi). Si manusia laba-laba ini membangkitkan kembali kegairahan membuat film superhero di Hollywood. Usai Spider-Man sukses besar, berturut-turut hadir versi layar lebar Hulk, The X-Men, Dare-Devil, The Punisher, Elektra, Cat Woman, hingga Iron Man. Superman dan Batman sendiri di-reboot alias dipermak ulang untuk penonton generasi 2000-an (Superman Returns, Batman Begins, The Dark Knight). Di luar film-film superhero yang tergolong mainstream di atas, Hollywood berkreasi merilis film superhero yang tak lazim. Untuk ini kita perlu menyebut The Incredibles (2004, film superhero bertema keluarga), My Super Ex-Girlfriend (2006, film superhero di-mix and match dengan komedi romantis), dan terakhir Hancock (2008, film superhero dengan penggambaran pahlawan super yang lebih sering bikin masalah buat orang banyak hingga butuh perawatan segala).

Fenomena di atas tak terjadi di Indonesia. Kelahiran kisah Superman versi Indonesia tak membangkitkan sineas lain untuk mengeksplorasi genre ini lebih jauh. Terbukti, sejak Rama hadir film-film bergenre superhero hanya muncul sesekali. Selain Gundala Putra Petir, ada DarnaAjaib (1980, Lilik Sudijo) yang berkisah tentang anak ajaib berkekuatan super.[4] Lalu hadir pula Manusia 6 Juta Dollar (1981, Ali Shahab) dan Gadis Bionik (1982, Ali Shahab). Dua film yang disebut terakhir ini lahir menyusul kepopuleran serial televisi populer waktu itu. Manusia 6 Juta Dollar merupakan versi parodi dengan Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) sebagai bintang utamanya. Sedangkan Gadis Bionik memasang (keseksian) Eva Arnaz sebagai jualan utama.

II

Genre superhero tak pernah jadi genre populer. Bahkan hingga sekarang, saat sineas kita merilis lebih dari 40-an film dalam setahun. Kita sudah melihat beberapa film anak-anak, puluhan film horor dan percintaan remaja, belasan komedi seks, dan film religius. Tapi, film superhero? Sepertinya, belum ada produser yang berminat membuatnya.

Mengapa begitu? Sebelum menjawab pertanyaan utama itu, ada baiknya menjawab pertanyaan yang ini dulu: mengapa produser era ’70-an dan awal ’80-an memutuskan membuat film superhero?

Anda harus mengerti dulu iklim perfilman di tahun-tahun itu untuk menjawabnya. Memasuki 1970-an, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bertujuan memajukan perfilman nasional. Kala itu, Menteri Penerangan Budiardjo mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 40/Kep/Mempen/1971 yang lazim disebut SK 71. Isinya, pemerintah memberi pinjaman pada produser sebesar setengah ongkos produksi film yang sedang mereka buat, dengan jumlah maksimal pinjaman Rp 7,5 juta (angka yang lumayan besar di tahun 1971). Keputusan ini disambut hangat kalangan produser. Terbukti, angka produksi film melonjak dari 21 film di tahun 1970 naik jadi 52 pada 1971.[5]

Di satu sisi, kebijakan ini terbukti meningkatkan jumlah produksi film. Namun, di sisi lain peningkatan kuantitas tak diikuti dengan peningkatan kualitas. Misbach Yusa Biran, sebagaimana dikutip Salim Said, mengeluhkan lahirnya banyak film yang “mutunya makin lama makin sulit dipertanggungjawabkan.”[6] Pangkal soalnya, SK 71 ini melahirkan para sineas dadakan. Kebutuhan akan tenaga perfilman serba cepat berdampak pada banyak bermunculan tenaga baru yang tak berpengalaman dan minim pengetahuan. Alhasil, film yang mereka hasilkan pun ala kadarnya, kebanyakan buruk.

Nah, di tengah situasi seperti itu lahir Rama Superman Indonesia. Tidak ada catatan yang menyebutkan film ini bermutu baik. Buku KatalogFilm susunan JB Kristanto (2005) tak menyebutkan film ini mendapat penghargaan FFI maupun disebut sebagai film laris. Sejarah pun mencatat, dampak kebijakan pemerintah yang mengakibatkan booming film, belakangan disambut dingin penonton. Orang makin jarang ke bioskop karena tahu lebih banyak film Indonesia yang jelek dari hari ke hari. Mereka baru akan menonton film Indonesia bila filmnya betul-betul baik.[7] Film impor keluaran Hollywood, Hong Kong, atau India lebih jadi pilihan tontonan. Kejemuan orang pada film Indonesia, membuat banyak produser merugi. Produksi film nasional kembali melorot.

Situasi ini mendorong para sineas bereaksi. Akan tetapi, alih-alih memperbaiki mutu film yang mereka bikin, kebanyakan sineas mengkambinghitamkan banjirnya film impor. Protes ini didengar pemerintah. Di jaman Menteri Penerangan Mashuri keluar Surat Kepututusan Menteri Pemerangan No. 51/Kep/Menpen/1976 yang mewajibkan importir film memproduksi film sebagai syarat untuk memasukkan film dari luar negeri. Kebijakan ini terbukti meningkatkan jumlah produksi film nasional. Pada 1977-1978 Direktorat Film Departemn Penerangan mengeluarkan 100 surat izin produksi film.[8] Rupanya, importir yang jadi produser film dadakan ini tak mau melepaskan usahanya mengimpor film luar negeri. Demi mendapat ijin memasukkan film impor, mereka rela jadi produser film.

Namun, lagi-lagi sejarah berulang. Banyak film, bukan berarti pula mutunya bagus-bagus. Produser film dadakan, yang “terpaksa” jadi produser lantaran ingin usahanya mengimpor film tetap jalan, dituding jadi biang kerok rendahnya mutu film nasional. Waktu itu produser yang importir film ini dituduh membuat film asal jadi.[9]

Sepeninggal Mashuri, giliran Ali Murtopo jadi menteri penerangan (dilantik Presiden Soeharto pada 1978). Ali Murtopo membebaskan para importir film dari kewajiban membuat film. Akibatnya, produksi film merosot. Salim Said mencatat, Ali tampaknya ingin terlebih dulu membersihkan dunia film Indonesia dari film-film bermutu rendah.[10] Film-film yang dibuat golongan “produser terpaksa”. Ali Murtopo lantas mengadopsi kebijakan yang pernah dilakukan pendahulunya di awal Orde Baru, yakni membiayai film yang disebut proyek percontohan “seperti apa film yang baik itu”.[11] Pada awal 1980-an proyek percontohan Ali Murtopo menghasilkan 5 film: Sorta, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Halimun, Lima Sahabat, dan Woyla.

Film superhero macam Gundala, Darna Ajaib hingga Gadis Bionik lahir di saat iklim perfilman mulai membaik dalam arti importir film yang jadi produser dadakan tak lagi diwajibkan membuat film. Namun, bukan berarti pula budaya membuat film asal jadi ikutan sirna. Gadis Bionik dan Manusia 6 Juta Dollar tak lebih dari reaksi latah produser film melihat kepopuleran serial televisi Bionic Woman dan The Six Million Dollar Man di TVRI saat itu. Sedangkan Gundala sebentuk reaksi sineas melihat komik yang tengah digandrungi masyarakat untuk kemudian di angkat ke layar lebar.

Sah-sah saja mengangkat serial televisi atau komik ke layar lebar. Hollywood sudah lama melakukannya. Yang jadi persoalan, bila di Hollywood sana versi layar lebar dari komik atau serial televisi memberi pengalaman sinematik berbeda saat diangkat ke layar lebar, tak demikian dengan film-film superhero yang disebut di atas. Film superhero buatan lokal kalah jauh dari segi teknologi. Gundala, misalnya, efek visualnya ketinggalan jaman dibanding film Superman pertama yang hadir 3 tahun sebelumnya.

III

Bila ditilik, pangkal soalnya terletak pada uang. Membuat film superhero sungguhan tidaklah murah. Adegan yang memperlihatkan sang jagoan mengeluarkan kekuatan supernya membutuhkan dana yang tak sedikit. Sekedar tipuan kamera sederhana macam serial televisi Superman di tahun ’50-an jelaslah sudah usang. Di awal tahun 1970-an, film Indonesia dibuat dengan bujet rata-rata belasan juta rupiah. Di penghujung ’70-an rata-rata film nasional berbujet 40-an juta rupiah—film yang bujetnya ratusan juta rupiah sudah sangat mahal waktu itu.[12] Angka-angka itu terlihat kecil bila dibandingkan film superhero bikinan Hollywood. Situs IMDB mencatat film Superman (1978) berbujet 55 juta dollar Amerika.

Bujet membuat film superhero kini makin spektakuler. Film The Dark Knight berbujet 150 juta dollar Amerika. Itu jumlah standar di Hollywood sana untuk film yang membutuhkan banyak aksi spektakuler. Namun, sineas film-film superhero lain berani mengambil resiko dengan angka di atas 200-an juta dollar. Sekadar contoh, X-Men: The Last Stand (2006) berbujet 210 juta dollar, Spider-Man 3 (2007, $ 258 juta dollar), dan Superman Returns (2006, $ 270 juta).

Angka-angka itu masih terlalu tinggi untuk ukuran film-film Indonesia sekarang. Rata-rata film Indonesia saat ini dibuat dengan bujet 2-3 miliar rupiah. Film yang dibuat di atas 5 miliar rupiah terhitung sedikit (Ayat-ayat Cinta konon dibuat dengan bujet 5 miliar rupiah, Gie konon berbujet 7 miliar rupiah).

IV

Di luar urusan uang, film superhero tak pernah benar-benar mengakar di jagad film nasional. Buktinya, sejarah mencatat kita hanya pernah melahirkan beberapa film superhero. Bila ditelusuri lebih jauh, kisah superhero bahkan bukanlah khas Indonesia. Mitologi pewayangan Mahabharata dan Ramayana yang sudah kita akrabi berabad-abad memang menyebutkan jagoan-jagoan berkekuatan super (Gatotkaca dan Hanoman, misalnya). Namun, apa yang disebut superhero muncul dan berkembang di tahun 1970-an lewat komik-komik lokal. Gundala, Godam, dan kawan-kawannya tumbuh subur di era itu.

Hanya saja, superhero lokal tak lebih dari tiruan atau versi lokal dari jagoan-jagoan superhero Amerika. Goenawan Mohamad pernah memaparkan kalau Gundala dan Godam (serta beberapa tokoh superhero komik lokal lainnya) mirip ”saudara”-nya di Amerika sana. Godam mirip Superman dan Captain Marvel. Jika Captain Marvel adalah penjelmaan penjual koran miskin, yang kemudian bekerja di radio, yang dengan berteriak ”Shazam!” berubah jadi pria perkasa; Godam, karya Wid N.S., sehari-hari adalah supir berwajah buruk bernama Awang. Tiap kali ada kejahatan dan ia merasa perlu menolong, ia mengenakan cincin sakti lalu berubah jadi Godam.[13]

Sedangkan Gundala mirip Captain America. Gundala, karya Hasmi, berpakaian hitam-hitam berupa kaus ketat yang menutupi seluruh tubuh dan sebagian wajahnya. Kepalanya pun tertutup kedok hitam, dengan hiasan sayap atau bulu di masing-masing kupingnya (konon, sayap di kuping itu perlambang sayap burung garuda, lambang negara kita). Kostum ini mirip Captain America. Bedanya, Gundala tertutup pakaian warna gelap sedang Captain America—yang muncul di masa menjelang Perang Dunia II ketika patriotisme Amerika memuncak—berwarna merah-putih-biru, warna bendera Amerika.[14]

Baik Godam dan Gundala amat digemari di tahun ’70-an.[15] Komik superhero telah menggantikan kepopuleran komik cerita silat di tahun sebelumnya. Saat komik silat populer, dunia film ikutan latah membikin versi filmnya. Komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH difilmkan pada 1970 dengan bintang Ratno Timoer. Pola serupa rupanya terjadi pula pada komik superhero. Meski hanya Gundala yang resmi diadaptasi ke film, besar kemungkinan film lainnya, seperti Rama, dibuat setelah melihat komik superhero populer di masyarakat.

V

Masalahnya, ya itu tadi, film superhero lokal tak memberi pengalaman sinematis berarti pada penonton. Efek visualnya tak lebih tipuan kamera sederhana. Alhasil, orang jadi malas menontonnya. Buntutnya, filmnya tak laku. Dan kalau sudah tak laku, akan sulit mengharapkan ada produser lain membuat film sejenis. Padahal, ini budaya produser Indonesia sejak dulu. Sebuah film populer akan melahirkan epigon berupa film bergenre sejenis. Bukankah itu yang terjadi pada Jelangkung dan Ada Apa dengan Cinta? Beberapa tahun lalu, dan Quickie Express serta Ayat-ayat Cinta sekarang? Film-film itu telah melahirkan banyak film ikutan. Produser kita yang kebanyakan bermental pedagang memandang film murni sebagai barang dagangan. Cara berpikir mereka sederhana. Jika melihat dagangan tetangga sebelah laku, dagangan yang sama mereka jual juga.

Padahal, jika menganggap film-film Hollywood sebagai tetangga sebelah, mestinya produser kita tergoda pula untuk ikut membuat film superhero. Film superhero keluaran Hollywood terbukti menguntungkan. Menurut data IMDB, untuk peredaran di seluruh dunia Spider-Man 3 memperoleh keuntungan lebih dari 885 juta dollar Amerika. Film Batman terbaru, The Dark Knight langsung bertengger di nomor satu box office. Modal yang dikeluarkan Warner Bros., produsernya, sudah balik belum sampai sebulan, bahkan berlipat jadi 314 juta dollar Amerika menurut data IMDB hingga akhir Juli 2008.

Apa produser kita tak tergoda dengan angka-angka itu? Mestinya sih iya. Hanya saja, saya rasa tak ada produser kita yang berniat membuat film berbujet 100 juta dollar Amerika hingga saat ini. Mungkin juga mereka belum sekaya itu. Kecuali para pengemplang BLBI berniat jadi produser film. Kita mungkin akan melihat film superhero lokal yang tak kalah spektakuler dari trilogi Spider-Man.

VI

Lalu, bagaimana dengan kelanjutan film Gundala yang katanya akan edar Juni tahun depan? Maaf, sepertinya kabar itu diragukan kebenarannya. Majalah Cinemags edisi Juli memuat surat pembaca yang bertanya soal kebenaran kabar film Gundala. Redaksi Cinemags meragukan kebenaran kabar itu. Cinemags menulis, jika ditelusuri nama-nama yang tercantum tidak dikenal dan sosoknya tidak ada.[16]

Situs yang memuat kabar itu sepertinya buatan fans Gundala yang mengharap betul versi filmnya hadir kembali—dengan kualitas tak kalah dari film superhero bikinan Hollywood.[17] Keinginan pembuat situs itu adalah keinginan kita bersama. Ya, kita sudah gerah dengan film horor cupu dan mulai bosan dengan komedi seks murahan. Bapak-bapak para pengemplang BLBI, adakah dari Anda yang berniat jadi produser film? ***

Tken from rumahfilm


10 Film WARKOP Terbaik

10. Pokoknya Beres (1983), Sutradara: Arizal

Us Us sebagai bapak kos membuat film yang seperti kliping adegan-adegan ini jadi lebih terasa “rumahan”. Dono, Kasino, Indro, plus Eva Arnaz dan Lidya Kandou yang nyaris selalu pakai short pant dan kaos ketat sepanjang film hampir seperti keluarga di sini. Warkop menggambarkan para perantau yang jadi pengangguran, dan disibukkan oleh salah paham kecil dan kesialan-kesialan kecil di antara para penghuni kos sendiri.

9. CHIPS-Cara Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial (1983), Sutradara: Iksan Lahardi.

Diilhami film seri CHIPS yang dibintangi Eric Estrada, Warkop jadi anggota polisi bermotor swasta pimpinan Oom Junet (Panji Anom) yang mata keranjang. Selalu sial dalam tugas, para anggota CHIPS ala Warkop ini juga jadi sindiran tentang budaya suap di kalangan aparat kepolisian waktu itu. Lihat saja adegan Kasino memeras si Oom dengan kata “Jangkrik, booos....!”

8. Manusia 6000000 Dollar (1981), Sutradara: Ali Shahab.

Saat mengejar copet, Dono ketabrak bemo, jadi manusia bionik. Diilhami sukses film seri TV The Six Million Dollar Man tentang Steve Austin (Lee Mayors). Dono harus menyelamatkan Eva Arnaz, dan melawan si gigi besi Jack John –ini karakter yang diilhami salah satu musuh James Bond dalam Moonraker. Adegan tak terlupakan: Kasino berburu copet, malah digebuki di pasar disangka copet.

7. Sama Juga Bohong (1986), Sutradara: Chaerul Umam.

Skenario ditulis N. Riantiarno. Sutradara dan penulis skenario yang biasa dengan film “nyeni” membuat film ini sangat unik dibanding film-film Warkop lainnya. Dono dibantu Kasino-Indro membuat robot untuk pertunjukan amal. Barangkali, ini salah satu dari sedikit sekali film Indonesia yang menampilkan karakter robot. Film ini juga paling tak mengeksploitasi keseksian perempuan.

6. Maju Kena Mundur Kena (1983), Sutradara: Arizal.

Film Warkop paling laris. Kasino jadi bos bengkel, dan Dono-Indro jadi bawahannya. Kasino melarang anak buahnya naksir perempuan, tapi dia sendiri terobsesi pada Marina (Eva Arnaz). Kemudian Marina satu kos dengan mereka, tapi yang beruntung malah Dono yang diakui suami Marina untuk menghindari dari perkawinan paksa oleh kakek-neneknya. Film diakhiri dengan Dono menyamar jadi pemain sepak bola wanita.

5. Setan Kredit (1982), Sutradara: Iksan Lahardi.

Dono Kasino Indro jadi tim pembantu orang-orang yang kesulitan, termasuk mencari dan mencoba menyelamatkan seorang anak yang diculik. Sepertiga terakhir film ini menjadi komedi-horor, dengan trik-trik kamera yang lumayan. Gaya mereka menghadapi pocong mirip dengan film-film vampir Hongkong yang populer pada 1990-an.

4. Mana Tahan (1979), Sutradara: Nawi Ismail.

Film paling “lurus” dari Warkop, juga adalah film pertama mereka. Citra “anak kos” dalam film ini tetap lekat pada mereka sampai film terakhir mereka pada 1994. Citra yang menggambarkan mereka sebagai sekawanan pemuda kurang kerjaan dan terobsesi pada perempuan. Masih dengan “Warkop keempat” yang asli: Nano.

3. Pintar-Pintar Bodoh (1980), Sutradara: Arizal.

Secara subjektif, inilah film Warkop terlucu menurut saya. Kritik sosialnya suwir-suwir saja, tapi premis ceritanya sudah lucu: detektif culun saling bersaing, dan semua kena nasib konyol. Momen paling ikonik: Dono memarodikan gaya John Travolta di Saturday Night Live, dan Kasino menyanyi “lagu kode”. Dibantu oleh Dorman Borisman, sebagai “Warkop keempat”.

2. Dongkrak Antik (1982), Sutradara: Arizal.

Kali ini, “Warkop keempat” adalah Mat Solar, yang budek dan suka nyabut bulu hidung. Mereka jadi pegawai hotel yang serbasalah. Dono pelupa, Kasino pemarah, Indro gagap. Di ujung film, mereka tampil sebagai band “Wah Gede Banget!”, yang memelesetkan lagu-lagu Beatles dan Rolling Stone jadi lagu-lagu-lagu daerah.

1. Gengsi Dong (1980), Sutradara: Nawi Ismail.

Dono sebagai Slamet, Kasino sebagai Sanwani, Indro sebagai Paijo. Mereka mahasiswa di kota Jakarta yang bersaing soal cewek dan gengsi. Slamet yang paling kampungan, sebetulnya paling kaya. Sedang Sanwani yang suka berganti-ganti mobil ternyata anak pemilik bengkel, dan mobil-mobil Sanwani adalah mobil-mobil para pelanggan. Sindiran sosial yang menghibur, tentang rapuhnya kebanggaan kelas sosial. Di film inilah pula, Dono mulai terkenal dengan panggilan ”bemo”.

Taken from rumahfilm


Figata Online © 2008. Template by Dicas Blogger.

TOPO